Kota Cirebon

Terima

Kasih

Pelantikan pengurus DPD JAI Kota Cirebon, berjalan lancar dan dihadiri oleh ribuan Jamaah Asysyahadatain se wilayah III

Klik
DPP JAI

Khidmat

Meriah

Drs. Habib Abdurrahman bin Umar bin Yahya, MBA, P.Hd. Ketua Umum DPP Jamaah Asysyahadatain Indonesia memimpin langsung tawasul akbar di Masjid Munjul Pesantren

Klik
Kompak

Berbaur

Panitia

Ketua Umum DPP JAI, foto bersama dengan panitia dan pengurus DPD JAI Kota Cirebon. Simbol sinergitas, foto bersama Jamaah Asysyahadatain.

Klik
Ikrar

Mengabdi & Berbhakti

Untuk Ummat

Pengurus DPD JAI Kota Cirebon saat dilantik Pemuda, menjadi motor penggerak perubahan dengan semangat mengabdi yang tinggi

Klik

Visi dan, Misi

  • Medecins du Monde Jane Addams reduce

  • Medecins du Monde Jane Addams reduce

  • Medecins du Monde Jane Addams reduce

  • Medecins du Monde Jane Addams reduce

  • Medecins du Monde Jane Addams reduce

Tulisan Terbaru

Selasa, 05 September 2017

Peduli Muslim Rohingya, Mahasiswa Asysyahadatain Gelar Aksi Penggalangan Dana

Cirebon Kota : Nasib kaum muslimin suku Rohingya di Rakhine, Myianmar yang mendapatkan perlakuan tidak manusiawi dan sedang menjadi sorotan dunia menggugah jiwa kepedulian sosial Gerakan Mahasiswa Pejuang Asysyahadatain (GEMPA). Puluhan anggota GEMPA menggelar aksi di Jl. Pemuda Kota Cirebon dan mendapat respon positif dari masyarakat.


Koordinator aksi, Alwi Shogir menjelaskan aksi penggalangan dana tersebut direncanakan akan digelar selama lima hari dan dimulai dari hari Selasa (05/09) ditempat yang sama. Dana yang terkumpul, kata Alwi, nantinya akan disalurkan melalui Palang Merah Indonesia.

"Alhamdulillah, dihari pertama kami berhasil mengumpulkan uang sejumlah 450.000. Nilai ini bagi kami bukanlah segalanya, tetapi yang penting kami, selaku mahasiswa asysyahadatain diwilayah cirebon dapat meringankan beban saudara-saudara muslim kami di Rakhine, Myianmar." kata Alwi

Terkait aksi tersebut, pendiri GEMPA Wahadi, merasa dirinya patut berbangga hati dan memberikan apresiasi kepada anggota GEMPA yang masih terus menjalankan roda organisasi.

"Semoga orang tua dan petinggi Jamaah Asysyahadatin lebih memperhatikan potensi pemuda pemudi nya yang luar biasa ini..... " tegas Wahadi.           

     
Sebelumnya, Ketua DPD Jamaah Asysyahadatain Indonesia Kota Cirebon, Wahidin menyampaikan pernyataan sikapnya terkait tragedi kemanusiaan yang dialami oleh kaum muslimin Rohingya di Rakhine, Myianmar :

1. Mengutuk keras kekerasan militer Myanmar dan para biksu Budha Myanmar. 
2. Meminta pada pemerintah untuk bertindak cepat untuk bisa mengatasi persoalan Rohingya dengan menekan pemerintah Myanmar.
3. Menggelar doa bersama untuk keselamatan umat muslim di dunia khususnya rohingya.
4. Menggalang dana untuk meringankan beban saudara muslim Rohingya.

Minggu, 19 Maret 2017

EMPAT RIBU KITAB JADI RUJUKAN ADILLAH JAMAAH ASYSYAHADATAIN

Mundu, Cirebon : Empat ribu lebih kitab rujukan tentang dalil-dalil Adillah tuntunan Jamaah Asysyahadatain siap disusun, seperti yang dihasilkan dalam acara Silaturahmi & Dialog Ulama Jamaah Asysyahadatain yang digelar pada Minggu, (19/03) di Masjid Agung Asysyahadatain Desa Citemu, Kecamatan Mundu, Kabupaten Cirebon.


Silaturahi para Alim Ulama Jamaah Asysyahadatain yang dihadiri oleh ribuan Jamaah Asysyahadatain se wilayah III Cirebon tersebut diinisiasi oleh Forum Kajian Adillah Asysyahadatain pimpinan Habib Ali Ausath Bin Ismail Bin Yahya. Dalam kesempatan tersebut, Ust. Herwin Purnama selaku penyusun Kitab Adillah bertutur tentang latar belakang penyusunan Adillah sehingga membuatnya menulis dan mengumpulkan kitab-kitab rujukan Adillah Asysyahadatain. 

“Apa-apa yang ada di Jamaah Asysyahadatain tidak keluar dari Qur’an Hadits Ijma Qias dan Ahlusunnah Wal Jamaah, saya sudah mengumpulkan 4000 lebih kitab rujukan tentang Asysyahadatain dan meminta Forum Kajian ini untuk segera menindaklanjuti Adillah tersebut,” ungkap pria yang juga aktivis Ikatan Mahasiswa Ahli Thariqoh Mu’tabaroh (MATAN) PW NU Jawa Barat tersebut dalam Forum Kajian.  

Mewakili Keluarga Besar pendiri Jamaah Asysyahadatain, Habib Hasan bin Ismail bin Yahya, turut merasa bahagia dengan adanya Kitab Adillah Asysyahadatain tersebut. Menurutnya penyusunan Adillah pernah direncanakan pada masa (alm) Habib Ismail Bin Umar Bin Yahya. “Saya mengapresiasi Ust. Erwin Purnama dan mengajak seluruh Jamaah untuk bersatu berjuang membuat karya-karya terbaik, seperti Kitab Adillah Asysyahadatain yang akan disusun, nantinya bisa sebagai pedoman dan panduan tuntunan Jamaah Asysyahadatain,” tegasnya.

Sementara itu, Dr. Moch. Masnun M.Pd selaku moderator dalam acara tersebut menilai bahwa, Adillah yang disusun oleh Ust. Herwin Purnama masih sebuah konsep. 


“Forum Kajian inilah media untuk membahas dan menyempurnakannya, bukan mengesahkannya, 4000 Kitab yang disiapkan menjadi rujukan bagi Adhillah Asysyahadatain tersebut bisa menjadi pedoman yang komprehensif.” Ungkap Dosen disalah satu perguran tinggi Cirebon tersebut. Senada dengan itu, Drs. Amirudin, M.Ag yang turut hadir dalam acara tersebut menegaskan tiga point mengenai adillah, menurutnya, penyusunan Adilah diharapkan dapat menghasilkan Kitab Adillah yang dapat dipahami oleh orang awam, orang khusus dan sangat khusus.

“Kajian Adillah ini sebagai forum silaturahim kita dan dapat menghasilkan Adillah yang dapat dipertanggungjawabkan secara akademik dan bukan semata-mata kepentingan kelompok,” tandasnya. Selanjutnya, Forum Kajian Kitab Adillah Asysyahadatain akan melanjutkan hasil Kajian tersebut di Masjid Asysyahadatain Kecamatan Kapetakan Cirebon pada, Rabu (03/05)

Kamis, 09 Maret 2017

Mengenal Jamaah Asysyahadatain dari Cirebon

Cirebon (07/03/2017) : Jamaah Asysyahadatain, didirikan oleh Syaikunal Mukarrom Habib Umar bin Ismail bin Yahya di Desa Panguragan Wetan, Kec. Panguragan, Kabupaten Cirebon. Lahir di Cirebon pada 1298 H/1888 M. Pada awalnya pengajian Asysyahadatain hanyalah sebatas gerakan ritual peribadatan yang diinisiasi oleh Abah Umar, panggilan familiar bagi masyarakat sekitar dan pengikutnya, Abah Umar menggelar pengajian dan membuat suatu metode tuntunan ibadah berfaham Ahlusunnah Wal Jamaah yang berlandaskan Qur'an, Hadist, Ijma dan Qias.

Dalam pengajiannya, Abah Umar mengajarkan penggunaan pakaian putih berbentuk sarung, jubah, sorban, rida dan sajadah dalam ibadah. Namun penggunaan pakaian putih tersebut hanyalah saat melakukan ibadah seperti Sholat, Dzikir, Tawasul dan Marhabanan, jika Jamaah hendak melakukan kegiatan sehari-hari maka, Jamaahnya dianjurkan untuk menggunakan pakaian adat sebagaimana mestinya.

 Hal tersebut menurut Ust Abdul Khakim Maula tokoh muda Jamaah Asysyahadatain sekaligus penulis buku "Mencari Ridha Allah" adalah sebagai wujud implementasi ungkapan "Mengambil Sunnahnya, tanpa mengambil Budayanya" bagi Jamaah Asysyahadatain.

"Jadi kalau ada kelompok yang menggunakan jubah sorban sambil jalan-jalan, kerja atau dagang, itu bukan Jamaah Asysyahadatain," tegasnya.

 Abah Umar fokus terhadap pengenalan, pengamalan dan pendalaman pada dua kalimat syahadat, itulah sebabnya nama Asysyahadatain dinisbatkan pada kelompoknya.  Namun, Abah Umar sendiri hingga wafatnya pada tahun 1973 tidak pernah menamakan pengajian yang digelarnya dengan nama tersebut, pada masa itu banyak orang mengenalnya dengan istilah Ngaji Syahadat atau Golongan Abah Umar. 

Lagi, menurut Ust Abdul Khakim Maula, nama Jamaah Asysyahadatain dicetuskan oleh putra Habib Umar yaitu, Habib Ismail bin Umar bin Yahya dan KH. Zainal Muttaqien pada tahun 1947 lantaran adanya permintaan dari Pemerintah saat itu, untuk membedakan Jamaah Asysyahadatain dengan kelompok yang berafiliasi pada NII/DII yang pada masa itu sedang merongrong NKRI. Secara resmi Jamaah Asysyahadatain melalui Abah Umar, mendukung Pancasila sebagai ideologi bangsa kepada presiden Soekarno.

Namun, pemerintah baru secara resmi merestui keberadaan Jamaah Asysyahadatain pada tahun 1951. Kedekatan dengan pemerintah dan bertambah pesatnya jumlah pengikut Abah Umar dalam pengajian Syahadatanya, menimbulkan kecembuaran dari ormas islam lainnya, akibatnya Jamaah Asysyahadatain pernah dibekukan oleh pemerintah pada tahun 1964, lantaran adanya aduan dari oknum pejabat pemerintah dan dianggap membuat membuat resah.

KH Fathoni, sesepuh Jamaah Asysyahadatain Kecamatan Lemahabang Kabupaten Cirebon menuturkan, pada masa itu kegiatan ibadah Jamaah Asysyahadatain diberbagai daerah diminta untuk dihentikan oleh pemerintah desa namun dengan alasan yang tidak jelas. "Ketika ditanya apanya yang dilarang, mereka cuma jawab, ga tau, kami cuma disuruh," ngkapnya. 

Pembekuan hanya berlangsung beberapa bulan saja, lalu digelar pertemuan antara ulama Jamaah Asysyahadatain dengan perwakilan ulama pemerintah (MUI) digelar sebagai bentuk klarifikasi atas masalah tersebut. Dalam pertemuan akbar tersebut Jamaah Asysyahadatain diwakilkan oleh salah satu murid Abah Umar, KH Khazim dari Munjul Pesantren Cirebon, dalam pertemuan tersebut berkesimpulan bahwa "Tidak adanya kesesatan/penyimpangan dalam tuntunan Jamaah Asysyahadatain" sehingga Jamaah Asysyahadatain kembali aktif.



Jamaah Asysyahadatain pada masa itu bukanlah organisasi, melainkan hanya sebuah kelompok pengajian, pada masa kepemimpinan Soeharto tahun 1971 Jamaah Asysyahadatain menjadi bagian dari Gabungan Usaha Pembaharuan Pendidikan Islam (GUPPI) sebuah yayasan bentukan Golongan Karya (Golkar). Melalui GUPPI tersebut, Putra Abah Umar, Habib Ismail bin Umar bin Yahya turut berperan aktif mewakili Jamaah Asysyahadatain. 

Habib Ismail bin Umar bin Yahya, melanjutkan estafet kepemimpinan Jamaah Asysyahadatain pasca wafatnya Abah Umar pada tahun 1973. Kini, Jamaah Asysyahadatain terus menunjukan eksistensinya, hal ini terlihat dalam acara-acara rutin Peringatan Hari Besar Islam di Masjid Agung Kebon Melati Panguragan. Meski belum pernah ada sensus resmi yang dilakukan Jamaah Asysyahadatain, beberapa wilayah seperti Indramayu, Semarang, Kudus, Jakarta, Lampung, Padang menjadi Jamaah terbanyak yang hadir di acara tersebut. (***)

Maklumat Jamaah Asysyahadatain Terkait Aksi Bela Islam II

Jakarta : Aksi bela Islam II yang akan dilaksanakan Jum'at 4/11 2016 di Jakarta menjadi isu nasional, media cetak, televisi hingga berita media online memenuhi beranda facebook. FPI dan tokoh-tokoh nasionalis seperti Ratna Sarumpaet, Sukmawati Soekarno Putri hingga Ahmad Dani merapatkan barisan. Meski pernah berseteru sebelumnya dengan FPI, terkait penistaan agama yang dilakukan Gubernur Jakarta, Basuki Tjahaya Purnama atau Ahok mereka menanggalkan sejenak segala perbedaan.

Nadhlatul Ulama, (NU) tegas melarang anggotanya untuk ikut-ikutan aksi tersebut. Muhammadiyah tidak melarang warganya, meski melarang penggunaan atribut Muhammadiyah dalam Aksi tersebut. Sejalan dengan Muhammadiyah menyikapi dugaan penistaan agama yang dilakukan oleh Ahok, Jamaah Asysyahadatain melalui Dewan Pimpinan Pusat Jamaah Asysyahadatain Indonesia menerbitkan surat Maklumat yang berisi mendukung dan mengapresiasi serta ikut mengawal upaya hukum yang dilakukan oleh Majelis Ulama Indonesia.

Sebagai salah satu ormas Islam, DPP Jamaah Asysyahadatain Indonesia mewakili seluruh warganya menuntut hal yang sama dengan ormas Islam lainya, yaitu, meminta kepada pemerintah segera memproses hukum penistaan agama yang dilakukan Ahok. 


Jakarta, adalah salah satu basis wilayah Jamaah Asysyahadatain, dipastikan, Jamaah Asysyahadatain secara pribadi akan ada yang ikut dalam aksi tersebut, sehingga melalui surat Maklumat DPP yang dibuat 2 November 2016, meminta kepada jamaahnya agar mengikuti aksi dengan tertib dan tanpa menggunakan atribut Jamaah Asysyahadatain. 

Dalam kalimat maklumat terakhir di surat tersebut, DPP JAI meminta kepada Jamaahnya agar tidak terprovokasi terhadap segala tindakan makar, dan tetap menjunjung tinggi asas dan ideologi NKRI. Maklumat tersebut, jelas sebagai bentuk keterlibatan Jamaah Asysyahadatain melalui organisasi pimpinan Habib Abdurahman bin Umar bin Yahya terhadap kondisi bangsa dan negara. Ke depan, Jamaah Asysyahadatain diharapkan mampu berperan aktiv dalam pembangunan nasional.